Selama mengikuti kegiatan Jelajah Sepeda Manado-Makassar yang diselenggarakan oleh Harian KOMPAS pada medio hingga akhir Agustus 2014 masih terdapat pengalaman yang menarik untuk ditulis. Penjelajahan berlangsung sejak pagi hingga sore hari bahkan beberapa diantaranya hingga malam hari. Oleh karena itu, setiap hari rombongan saat menjalani etape per etape selalu terpapar sinar matahari. Hanya satu jam saja iringan goweser tidak terkena sinar matahari. Ketika itu terjadi di etape ketiga dari Lolak (Bolaang Mongondow) menuju Boroko (Bolaang Mongondow Utara) pada sore hari sempat merasakan guyuran air hujan.
Selama penjelajahan tersebut mulai dari utara hingga selatan Sulawesi ada sesuatu yang menarik untuk dilihat. Ketika terpapar sinar matahari mulai dari pagi hingga sore akan muncul bayangan. Bisa dikatakan sebagai bayangan yang terpanjang karena selalu ada ketika menyusuri jalan sejauh hampir 1.600 km. Bayangan bisa muncul karena ada bagian yang tidak mendapatkan sinar matahari. Bayangan yang timbul tergantung waktu bersinarnya matahari, saat pagi dan sore hari bayangan yang timbul lebih panjang dari bendanya sehingga menarik untuk diabadikan baik dengan kamera poket maupun kamera telepon pintar. Pada matahari siang hari membentuk bayangan yang keras hasilnya sehingga kurang menarik untuk diabadikan. Elemen pendukung yang terdapat di sekitarnya harus dilibatkan dalam pengambilan gambar.
"Bayang-bayang berarti ruang yang tidak kenar sinar karena terlindung benda"
(Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Beberapa foto rombongan dengan bayangan yang berhasil saya abadikan saat menjelajahi tanah Sulawesi selama 14 etape sebagian besar diambil pada pagi dan sore hari. Adapun foto yang saya abadikan di siang hari hanya sedikit karena kurang menarik dan untuk menyiasati foto tersebut agar enak untuk dilihat caranya dengan mengikutsertakan keadaan sekitarnya. Kombinasi antara rombongan pesepeda dengan bayangan yang dihasilkan dan bentangan alam juga menarik untuk diabadikan. Hampir semua foto yang saya tampilkan ini diabadikan ketika berada di posisi sedang meng-gowes.
 |
| Bayangan yang dihasilkan saat iringan pesepeda yang berbaris rapi ketika menjalani etape terakhir dari Pangkep menuju Makassar sejauh 58 km, Minggu (31 Agustus 2014). |
 |
| Bayangan yang terbentuk ketika hari masih pagi menghasilkan bentuk yang lebih panjang dari goweser saat menjalani etape 14, Minggu (31 Agustus 2014). Foto diabadikan ketika rombongan baru saja meninggalkan kantor Semen Tonasa di Pangkajene dan Kepulauan. |
 |
| Kombinasi yang menarik untuk diabadikan ketika bayangan yang terbentuk dari rombongan pesepeda dengan bentangan alam saat menjalani etape Poso menuju Pendolo. |
 |
| Iringan pesepeda ketika selepas start etape 3 dari Lolak (Bolaang Mongondow) menuju Boroko (Bolaang Mongondow Utara). |
 |
| Bayangan yang timbul ketika para penjelajah sepeda menuju Pelabuhan Marisa yang terdapat di Propinsi Gorontalo untuk kemudian diangkut oleh KMP Cengkih Afo menuju Ampana (Sulawesi Tengah). |
 |
| Sepeda yang tidak digunakan dan terkena paparan sinar matahari juga menarik untuk diabadikan karena bayangan yang dihasilkannya. Rombongan sedang istirahat setelah menjalani awal perjalanan etape 5 dari Kota Gorontalo menuju Marisa. |
 |
| Bayangan keras hasil dari sinar matahari tengah hari kurang menarik untuk diabadikan karena letaknya tepat di bawah pesepeda ketika memasuki wilayah Tentena (Sulawesi Tengah). |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar